Pemerintah Jangan Seenaknya Izinkan Asing Kuasai Bisnis Avtur

Pemerintah Jangan Seenaknya Izinkan Asing Kuasai Bisnis Avtur

Jiromedia.com - Pengamat Energi, Ugan Gandar mengingatkan pemerintah agar tidak mengizinkan perusahaan swasta dan asing merebut bisnis Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis avtur di Indonesia. Penyediaan dan penyaluran avtur oleh BUMN harus dipertahankan karena ini bukti kedaulatan bangsa atas minyak dan gas.

“Jika mereka incar bisnis avtur hanya di daerah ‘basah’ dan menutup mata untuk bandara kecil seperti di Papua, Kalimantan, Sulawesi, dan lain-lain, maka jelas pemerintah harus tegas menolak kehadiran mereka,” kata dia dalam keterangan tertulisnya yang dikutip media, Sabtu (23/9).
Seperti diketahui, Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) baru-baru ini menyatakan akan memberi kesempatan‎ perusahaan minyak asal Inggris British Petroleum (BP) untuk berbisnis avtur di Indonesia.
Rencana BP masuk pasar avtur Indonesia dikemukakan Menteri Penerbangan dan Keamanan Internasional Inggris Lord Callanan saat bertemu dengan Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, di Kantor Kementerian Perhubungan, Selasa (15/8).
Menurut Ugan, jika pemerintah membuka dan memberi kesempatan pada pihak asing atau swasta berbisnis avtur di negeri ini hanya pada bandara-bandara “basah” saja, maka pemerintah pun harusnya tidak melarang BUMN Pertamina ketika menghentikan bisnis dan penyaluran avtur di bandara-bandara kecil di seluruh negeri ini.
Dia melanjutkan, penyediaan dan penyaluran avtur di negeri ini oleh BUMN, harusnya dipahami sebagai kedaulatan bangsa atas Migas dan bukannya sebagai bisnis semata.
Jika dinilai bahwa harga jual avtur oleh BUMN Indonesia lebih mahal dari harga jual di negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia, ini harusnya dipahami bahwa ada faktor-faktor penyebab yang berbeda antara Indonesia dengan negara negara tersebut. “Misalnya luas wilayah yang ada yang berpengaruh terhadap ongkos angkut,” katanya.
“Adanya beban PPn yang masuk dalam harga jual dan faktor-faktor lainnya yang membuat harga avtur BUMN lebih tinggi dari harga di negara tersebut,” tambah dia.
Ugan menambahkan, Kementerian Perhubungan harus tegas bersikap dengan menunjukkan keberpihakan dan dukungan penuh terhadap perusahaan milik negara, misalnya dengan mensyaratkan jika pihak asing atau swasta ingin berbisnis avtur di Indonesia maka mereka, misalnya juga diharuskan membangun kilang untuk mengolah avtur di Indonesia dan membeli minyak mentahnya dari Indonesia pula.
“Kemudian pemerintah harusnya pula mensyaratkan pihak asing atau swasta juga wajib menyediakan avtur di seluruh bandara yang ada di Indonesia bukan hanya bandara-bandara basah saja, seperti di Jakarta, Surabaya, Bali, Medan, Makassar, Manado, Balikpapan, dan Batam,” ujarnya.
Penyediaan dan penyaluran avtur, bahan bakar untuk pesawat udara di negeri ini selama ini, dilakukan oleh PT Pertamina (Persero), yang selama ini penyaluran avtur lebih karena menjalankan misi pemerintah ketimbang mengejar keuntungan.
Hal tersebut, menurut dia terbukti dengan perannya menyediakan avtur di bandara perintis dan bandara-bandara kecil di daerah terpencil dan terluar yang secara bisnis ini sangat tidak menguntungkan bagi perusahaan yang hanya berorientasi pada keuntungan.
Sehingga, kalau memberi dan mendukung perusahaan asing atau swasta untuk berbisnis avtur khususnya di bandara-bandara besar atau bandara “basah” sama saja dengan “mengkerdilkan” Pertamina.
Berpihak siapa?
Ferdinand Hutahaean, Dir Eksekutif Energi Watch IndonesiaI mempertanyakan, sebenarnya pemerintah ini, terutama Kementerian Perhubungan berpihak kepada siapa? Kepada BUMN atau kepada swasta asing? Atau memang sudah menjadi benar-benar antek kepentingan asing?
Ini jadi pertanyaan besar mengingat dulu Pak Jokowi pernah menyampaikan akan menjadikan Pertamina 5 kali lebih besar dari Petronas.
“Saya fikir kebijakan Kementerian Perhubungan tentang terkait pemikiran penjualan Avtur di bandara lokal oleh swasta asing perlu ditinjau ulang karena tidak sesuai dengan nawacita Jokowi,” paparnya yang dikutip Harian Terbit, Sabtu (23/9).
Menurut Ferdinand, kebijakan penjualan Avtur ini akan menjadi masalah dan akan menjadi palu godam yang memukul bisnis Pertamina yang adalah perusahaan milik bangsa Indonesia.
“Kami menolak kebijakan pemerintah bila hanya memberikan ijin penjualan Avtur di kota-kota besar saja atau hanya di bandara besar kepada swasta asing. Itu sama saja membunuh bisnis Pertamina. Kalau bisnis avtur dibuka untuk asing atau swasta maka itu harusnya diarahkan ke bandara-bandara yang jauh dan perintis, supaya misi pemerintah terwujud. Ini baru pemikiran yang sesuai dengan nawacita.” Tegasnya. [sm]

Admin

Please Share 😊


Sign out
Blogger
Disqus
Pilih Sistem Komentar Yang Anda Sukai
How to style text in Disqus comments Top Disqus Commentators
  • To write a bold letter please use <strong></strong> or <b></b>.
  • To write a italic letter please use <em></em> or <i></i>.
  • To write a underline letter please use <u></u>.
  • To write a strikethrought letter please use <strike></strike>.
  • To write HTML code, please use <code></code> or <pre></pre> or <pre><code></code></pre>.
    And use parse tool below to easy get the style.
Show Parse Tool Hide Parse Tool

How to get ID DISQUS - http://disq.us/p/[ID DISQUS]

strong em u strike
pre code pre code spoiler
embed

0 Comment

Add Comment

Show Parse Tool Hide Parse Tool


Google Plus
Facebook
Twitter
Tumblr
Reddit
Pinterest
Linkedin
Getpocket
Wordpress
close